بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 1
Ayat yang pertama berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim”.
Artinya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Bismillahirrahmanirrahim selalu diucapkan sebelum kita melakukan kegiatan sehari-hari.misalnya
kita mau membaca Al-Quran. Kita mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Arti yang sebenarnya adalah, “Saya membaca Al-Quran ini dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Begitu juga kalau kita mau makan. Begitu kita pegang nasi kita ucapkan bismillahirrahmanirrahim Artinya, “Saya makan hidangan ini dengan menyebut nama Allah.” Demikian seterusnya.
Kalau begitu, dalam syariat Islam, manusia tidak boleh bergerak tanpa seizin Allah. Dengan kata lain, tidak sepantasnya manusia mengerjakan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Hikmah membaca basmallah adalah supaya gerak-gerik kita tidak jauh dari Allah, sebagai tanda kita selalu beriman kepada-Nya.
Ayat Kedua berbunyi "Alhamdulillahirabbalalamin".
Artinya "Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam."
Segala pujian beserta sifat-sifat yang tinggi dan sempurna hanyalah milik Allah suhanahu wata'ala semata. Tiada siapa pun yang berhak mendapat pujian yang sempurna kecuali Allah suhanahu wata'ala. Karena Dia-lah Penguasa dan Pengatur segala sesuatu yang ada di alam ini. Dia-lah Sang Penguasa Tunggal, tiada sesuatu apa pun yang berserikat dengan kuasa-Nya dan tiada sesuatu apa pun yang luput dari kuasa-Nya pula. Dia-lah Sang Pengatur Tunggal, yang mengatur segala apa yang di alam ini hingga nampak teratur, rapi dan serasi. Bila ada yang mengatur selain Allah suhanahu wata'ala, niscaya bumi, langit dan seluruh alam ini akan hancur berantakan. Dia pula adalah Sang Pemberi rezeki, yang mengaruniakan nikmat yang tiada tara dan rahmat yang melimpah ruah. Tiada seorang pun yang sanggup menghitung nitmat yang diperolehnya. Disisi lain, ia pun tidak akan sanggup membalasnya. Amalan dan syukurnya belum sebanding dengan nikmat yang Allah suhanahu wata'ala curahkan kepadanya. Sehingga hanya Allah suhanahu wata'ala yang paling berhak mendapatkan segala pujian yang sempurna.
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ3
Ayat yang ketiga berbunyi "Ar-Rahmaanirrahiim"
Artinya "Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Ar Rahman dan Ar Rahim adalah Dua nama dan sekaligus sifat bagi Allah suhanahu wata'ala, yang berasal dari kata Ar Rahmah. Makna Ar Rahman lebih luas daripada Ar Rahim. Ar Rahman mengandung makna bahwa Allah suhanahu wata'ala mencurahkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman atau pun yang kafir. Sedangkan Ar Rahim, maka Allah suhanahu wata'ala mengkhususkan rahmat-Nya bagi kaum mukminin saja. Sebagaimana firman Allah suhanahu wata'ala: "Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman". (Al Ahzab: 43)
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ4
Ayat yang keempat berbunyi "Maaliki yaumiddin"
Artinya "Yang Menguasai Hari Pembalasan."
Para 'ulama ahli tafsir telah menafsirkan makna Ad Din dari ayat diatas adalah hari perhitungan dan pembalasan pada hari kiamat nanti.
Umur, untuk apa digunakan? Masa muda, untuk apa dihabiskan? Harta, dari mana dan untuk apa dibelanjakan? Tiada seorang pun yang lepas dan lari dari perhitungan amal perbuatan yang ia lakukan di dunia. Allah suhanahu wata'ala berfirman (artinya):
"Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah". (Al Infithar: 17-19)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ5
Ayat yang kelima berbunyi "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin"
Artinya "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."
Secara kaidah etimologi (bahasa) Arab, ayat ini terdapat uslub (kaidah) yang berfungsi memberikan penekanan dan penegasan. Yaitu bahwa tiada yang berhak diibadahi dan dimintai pertolongan kecuali hanya Allah suhanahu wata'ala semata. Sesembahan-sesembahan selain Allah itu adalah batil. Maka sembahlah Allah suhanahu wata'ala semata.
Sementara itu, disebutkan permohonan tolong kepada Allah setelah perkara ibadah, menunjukkan bahwa hamba itu sangat butuh kepada pertolongan Allah suhanahu wata'ala untuk mewujudkan ibadah-ibadah yang murni kepada-Nya.
Selain itu pula, bahwa tiada daya dan upaya melainkan dari Allah suhanahu wata'ala. Maka mohonlah pertolongan itu hanya kepada Allah suhanahu wata'ala. Tidak pantas bertawakkal dan bersandar kepada selain Allah suhanahu wata'ala, karena segala perkara berada di tangan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah suhanahu wata'ala (artinya):
"Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya". (Hud: 123)
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ6
Ayat yang keenam berbunyi "Ihdinas shiraatal mustaqiim"
Artinya "Tunjukkanlah Kami Ke Jalan Mu Yang Lurus."Yaitu jalan yang terang yang mengantarkan kepada-Mu dan jannah (surga)-Mu berupa pengetahuan (ilmu) tentang jalan kebenaran dan kemudahan untuk beramal dengannya.














